Wednesday, June 29, 2016

Sekjen Kemenhub Periksa Kesiapan Seluruh Moda di Pelabuhan Semayang

BALIKPAPAN, MONITOR KALTIM.CO  -  Terhitung sejak inspeksi mendadak Sekretaris Jendral (Sekjend) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Sugihardjo Minggu (26/6), calon penumpang yang menggunakan kendaraan pribadi melalui penyeberangan feri Karingau-Penajam Paser Utara (PPU) pulang pergi, wajib tercatat. "Kalau biasanya yang membeli tiket hanya penumpang yang berjalan kaki sedangkan mobil dan sepeda motor hanya kendaraan yang dihitung mulai sekarang tidak boleh. Semua identitas penumpang di dalam mobil dan motor harus dicatat," ujanya saat diwawancarai di sela pemeriksaan kesiapan alat keselamatan di atas KM Lambelu yang sandar di Pelabuhan Semayang tadi malam.

Ia memastikan, penghimpunan data seluruh penumpang tidak membuat tarif angkutan bertambah. "Mobil yang isinya penuh penumpang maupun kosong, tarifnya tetap sama. Mencatat identitas murni untuk memenuhi aspek pelayanan dan keselamatan sesuai instruksi Pak Menteri," tegasnya.

Bukan hanya itu, setiap kendaraan yang menumpang wajib diikat agar posisi kendaraan tidak bergeser selama perjalanan.

Sidak yang turut dihadiri Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub Antonius Tonny Budiono dan Direktur Utama (Dirut) PT Pelni (Persero) Elfien Guntoro turut memeriksa kesiapan moda transportasi lainnya. Diawali dengan memantau gelombang penumpang di Bandara Internasional Sepinggan saat mendarat di Balikpapan. "Di bandara hasilnya jumlah (penerbangan) pesawat turun dibanding tahun lalu tapi jumlah penumpang meningkat. Karena tahun ini sejumlah maskapai mengoperasionalkan pesawat berbadan lebar sehingga daya angkut jadi lebih besar," ucapnya.

Tercatat, penumpang yang berangkat dari Bandara Internasional Sepinggan periode H-11 Ramadan lalu mencapai 101 penerbangan dengan 102 ribu penumpang sedangkan periode yang sama tahun ini, hanya 87 penerbangan dengan 111 ribu penumpang.

Sidak dilanjutkan dengan melihat kesiapan fasilitas terminal penumpang di Pelabuhan Semayang, sistem keberangkatan dan alat keselamatan di atas kapal. Termasuk memeriksa ketersediaan tenaga medis di atas kapal dan melakukan test urine kepada seluruh anak buah kapal (ABK). "Khusus di Semayang seluruh (calon) penumpang harus difasilitasi karena tidak semua bisa tertampung di ruang tunggu. Terutama yang datang lebih awal sebelum keberangkatan," lanjutnya.

Terkait toleransi daya angkut, dia menerangkan besarannya dihitung berdasarkan kemampuan kapal. Karena menurutnya, penambahan penumpang tidak saja mengharuskan operator menambah life jacket tapi juga tetap memperhatikan ruang gerak penumpang agar tetap nyaman selama menempuh perjalanan. "Termasuk toilet kan jumlahnya tidak bisa ditambah. Jadi itu menjadi pertimbangan berikutnya," sahutnya tenang.

KM Lambelu misalnya, yang menjadi sasaran pemantauannya tadi malam lintasan Balikpapan-Pare Pare-Makassar dan kawasan timur lainnya, dari sekira 2.500 kapasitas angkut hanya 862 penumpang tambahan. "Di atas kapal ada 2.072 penumpang dari Tarakan dan Nunukan lalu dari Balikpapan ada 890 penumpang yang naik," ucap Dirut Pelni Elfien Guntoro.

Adapun alat keselamatan seperti sekoci, berdasarkan hasil uji, laik operasi. Total ada 12 sekoci yang tersedia di atas kapal berkapasitas 150 orang. Ada juga life raft sebanyak 104 unit masing-masing yang mampu menampung 25 orang. Didalamnya sudah tersedia makanan. Itu masih ditambah dengan life jacket yang jumlah diklaim sesuai kapasitas angkut kapal.

Dalam kegiatan tadi malam Sekjend didampingi Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Semayang Henry Tondang, Project Management Officer Connectivity PT Pelindo (Persero) IV Moch Subiyan yang sebelumnya menjabat sebagai General Manager (GM) cabang Balikpapan dan GM Pelni Firman Rachimin.

Selain melakukan pemeriksaan, Sekjend juga berkomunikasi dengan sejumlah calon penumpang yang tengah menunggu keberangkatan. Ia pun tidak keberatan saat beberapa calon penumpangnya mengajaknya berfoto. (na)

0 comments:

Post a Comment