Friday, May 6, 2016

Kemtrian ESDM Nyatakan Pengembangan Bioenergi Sebagai Alternatif Terbaik Gantikan BBM













Balikpapan,New Borneo.Com – Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Bioenergi menyatakan pengembangan Bioenergi sangat penting sebagai sumber penyediaan kebutuhan energi di masa mendatang, mengingat keterbatasan cadangan energi konvensional (minyak dan gas bumi serta batubara) dan harganya yang fluktuatif.
 
Menurut Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Bioenergi Kementrian ESDM Sudjoko Harsono Adi, saat ini konsumsi energi Indonesia masih didominasi oleh penggunaan bahan bakar fosil yaitu sekitar 94%. “Energi terbarukan baru berperan sebesar 6% dari sisi penyediaan energi primer, padahal Indonesia memiliki potensi sumber daya energi dengan diversifikasi yang bervariasi dan cukup besar serta tersebar di seluruh wilayah Indonesia”, ungkap Sudjoko saat menyampaikan sambutannya pada Bimbingan Teknis Bioenergi berthema Handling and Storing Bahan Bakar Nabati di Hotel Gran Tjokro Balikpapan, Senin (25/4).

Sebagai negara tropis, urai dia, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang berlimpah khususnya produk bioenergi yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Saat ini kita telah berhasil menjadi salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. “Peluang tersebut harus dimanfaatkan untuk mengembangkan bioenergi baik dalam bentuk cair (BBN: bioediesel, bioethanol dan biooil), gas (Biogas, PLTBg POME) dan biomassa padat”, paparnya.

Pengembangan dan pemanfaatan Bioenergi selain dalam rangka peningkatan keamanan pasokan energi (security of supply) juga merupakan salah satu upaya dalam mitigasi gas rumah kaca karena bioenergi merupakan energi bersih. Dengan memanfaatkan biodiesel sebagai energi kita bisa mengurangi emisi GRK (CO2).

“Saya sangat menyambut baik usaha untuk mendapatkan rekomendasi teknis pemanfaatan B20 melalui kajian dan uji teknis yang melibatkan semua stakeholder terkait bekerja sama dengan KESDM seperti BPPT, Aprobi, Gaikindo, HINABI, Hino, ITB, PPPTMGB “Lemigas” dan lainnya” paparnya.

Pemerintah dalam hal ini telah menyediakan regulasi dan insentif yang cukup agar Biofuel khususnya Biodiesel dapat berkembang secara cepat seperti mandatori, Harga Indeks Pasar dan lainnya.

Penerapan pemanfaatan bahan bakar nabati B20 tidaklah mudah. Terdapat berbagai macam tantangan yang harus kita lalui bersama, diantaranya ialah:

“Perlunya jaminan supply bahan baku (CPO) yang berkelanjutan.Harga biodiesel yang bersaing dengan bahan bakar minyak jenis minyak solar, khususnya yang diimpor.Kesiapan industri dan teknologi kendaraan dan mesin industri.Kesiapan infrastruktur blending untuk distribusi biodiesel.Kesiapan Handling dan Storing Biodiesel”, ujarnya.

Dalam rangka mengatasi hambatan dan tantangan tersebut, lanjut dia, pihaknya telah melakukan berbagai upaya dengan terus melakukan pengawasan kualitas dan kuantitas, penyiapan regulasi dan standar, serta uji teknis B20 dan sosialisasi.

Saya berharap, kata dia, agar masyarakat dapat berperan aktif, bersinergi, berkomitmen untuk mendukung ketahanan energi dan ekonomi nasional yang berkelanjutan serta memberikan masukan untuk pengembangan dan pemanfaatan bahan bakar nabati mulai saat ini dan di masa datang.

Sementara itu Dothor Panjaitan Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan Bioenergi Direktorat Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM mengatakan pengembangan Bioenergi sangat penting sebagai sumber penyediaan kebutuhan energi di masa mendatang, mengingat keterbatasan cadangan energi konvensional (minyak dan gas bumi serta batubara) dan harganya yang fluktuatif;

“Untuk menjaga aspek keberlanjutan perlu adanya masukan-masukan pengembangan dari aspek lingkungan, ekonomi dan sosial, begitu pula dalam pengembangan bioenergi”, jelasnya.

Dalam mengembangkan Bioenergi, kata Dothor, diperlukan dukungan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan terkait antara lain Akademisi, Pemerintah Daerah dan Sektor Swasta.
 
Pengembangan dan pemanfaatan Bioenergi selain dalam rangka peningkatan keamanan pasokan energi (security of supply) juga merupakan salah satu upaya dalam mitigasi gas rumah kaca karena bioenergi merupakan energi bersih.

Terkait Kendala dan permasalahan yang dihadapi di lapangan seperti handling dan storing biodiesel, tambah Dothor, harus segera diatasi guna mendukung tercapainya implementasi pemanfaatan biodiesel di Indonesia.(naim)

0 comments:

Post a Comment